Tuesday, March 21, 2006

Wisata Bahasa (01)

Pria itu mengaku sebagai budayawan. Dengan rambut keriting terurai panjang yang menghiasi kepalanya, seakan memberi penegasan bagi siapapun yang melihatnya untuk meng-iya-kan bahwa dia itu memang seniman (biasanya seorang seniman bisa 'naik pangkat' menjadi budayawan). Matanya yang besar dan celung--seperti orang yang tak pernah tidur--terlihat menyeramkan, kontras dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, penuh gurauan vulgar serta satir. Perpaduan yang menarik.

Kulitnya coklat hitam, dibalut dengan pakaian yang telah menemaninya sekian lama untuk turut 'berbicara' pada dunia sekitar bahwa mereka merupakan suatu karakter sendiri--sepotong baju dengan kain hitam terbalut sebagai pengganti celana. Dalam karakter itu dia berbicara--kepadaku salah satunya--tentang (Bahasa) Indonesia.

"Ini ngga adil!" ketika dia menyebutkan fakta bahwa, penyebutan proses berkarya seorang pejabat negara sebagai suatu "pengabdian". "Sedangkan tukang sapu jalan, petugas tiket, tukang becak cuma dibilang 'kerja', ini ngga adil!". Dia menambahkan, "Setiap pejabat pasti gitu, bilangnya, 'saya sudah mengabdi pada negara sekian tahun'... padahal sama saja yang namanya kerja ya kerja, tukang sapu juga mengabdi kok pada kerjaannya. Ini cuma permainan bahasa saja." Para pendengar kontan tertawa.

Kemudian, dalam panggung itu dia pun melontarkan satirnya, "masak pejabat pake embel-embel gelar pendidikan segala? ini yang dinamakan ngga konsisten, untuk jadi presiden atau jabatan politik tidak perlu memakai gelar pendidikan yang memang diperuntukkan untuk jabatan pendidikan." Omongannya kali ini sebagai sebuah contoh pengaburan konsep matematika. Dia bilang matematika itu bukan cuma segala sesuatunya pasti, melainkan juga memahami dan menghargai konsistensi. "Walaupun banyak turunan rumusnya, kalau A=B ya harus konsisten sampai turunan yang terakhir bahwa A=B." Terdengar seperti orang yang berlatar pendidikan ilmu pasti. Memang, karena dia pernah tercatat sebagai mahasiswa jurusan teknik sipil. Sempat, katanya, hymne jurusannya dia yang buat.

Belum benar meresapi wacana yang coba dilontarkan olehnya, saya teringat seseorang yang lain. Yang ini tampil lebih necis, lebih gaya dengan biasanya memakai kaos atau kemeja dipadupadankan dengan jeans berwarna gelap (tetapi apakah parameter dari sebuah gaya menurut anda?).

Dia menyebut dirinya sang teroris mental. Dengan tulisannya dia mencoba untuk meneror mental pembaca. Lebih gemuk dari orang pertama, rambutnya pun ditutupi oleh topi khas inggris. Citraannya seperti pelukis dari barat, cuma kali ini orang itu berpuisi dan menulis cerpen. Karena memang pekerjaannya menulis inilah saya sering bertemu lewat tulisan yang katanya dapat meneror mental itu.

Saya membaca buah pikir orang kedua ini dalam kolom bahasa surat kabar nasional. Dia membahas tentang 'kami'. "Dalam menulis surat, kita telah terbiasa menuliskan kata 'hormat kami' . Orang sering menggunakan kata 'kami' dan 'kita' padahal dia cuma sendiri." Penggunaan bentuk jamak ini menurutnya dapat memberikan 'kekuatan lebih' kepada si penulis dan dapat menekan si pembaca. Memang begitu ya?

Ada benarnya. Dengan menggunakan kata "kami" terasa si penulis tidak hanya sendiri berhadapan dengna si pembaca. Kemudian dengan menggunakan kata "kita" si penulis dapat 'memaksa' pembaca merekonstruksi realitas sesuai dengan persepsinya. Licik? Mungkin.

Kedua orang tersebut 'berbicara' kepada saya. Bagaimana mereka memperhatikan bahasa membuat saya menjadi lebih berhati-hati dalam berbahasa. tentu khalayak sudah tau bagaimana bahasa dapat dipermainkan sedemikian rupa untuk memanipulasi sesuatu--realitas. Kita (saya memakai kata 'kita', hati-hati!) sudah seharusnya lebih peka. Lebih peka.

Karena bahasa merupakan alat untuk menindas.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home