Saturday, March 18, 2006

Matahari dan Matasapi

Berikut adalah sedikit tulisan mengenai 'matahari' dan 'matasapi'. Tulisan ini akan diupdate semau saya, untuk memperkaya karakter sang 'matahari' dan si 'matasapi' . Mungkin tulisan ini dapat menjelaskan kenapa saya suka kedua nama tersebut.

Matahari dikenal dalam bahasa Inggris sebagai 'Sun'. Matahari merupakan bintang terdekat dengan bumi dengan jarak rata-rata 149.680.000 kilometer (93.026.724 batu / miles). Matahari serta kesembilan buah planet membentuk tata surya. Matahari ber-diameter 1.391.980 kilometer dengan suhu permukaan 5.500 °C dan suhu pada intinya 15 juta °C. Matahari dikelaskan sebagai bintang kecil jenis G. Cahaya matahari menempuh masa 8 menit untuk sampai ke bumi dan cahaya matatahari yang terang ini dapat mengakibatkan siapapun yang memandang terus kepada matahari, menjadi buta.

Untuk terus bersinar, matahari, yang terdiri daripada gas panas menukar zat hidrogen dengan zat helium melalui reaksi gabungan nuklear pada kadar 600 juta ton, dengan itu kehilangan empat juta ton massa setiap saat. Matahari dipercayai terbentuk pada 5.000 juta tahun lalu.

Kepadatan massa matahari adalah 1,41 berbanding massa air. Jumlah tenaga matahari yang sampai ke permukaan bumi dikenali sebagai konstan solar menyamai 1.37 kilowatt permeter persegi setiap saat. Matahari berputar 25,04 hari bumi setiap putaran dan mempunyai gravitasi 27,9 kali gravitasi bumi. Terdapat julangan gas teramat panas yang dapat mencapai hingga 100.000 kilometer ke angkasa. Marakan matahari 'sun flare' ini dapat mengganggu gelombang komunikasi seperti radio, tv dan radar di bumi dan mampu merusak satelit atau stasiun angkasa yang tidak terlindungi. Matahari juga menghasilkan gelombang radio, gelombang ultra-violet, sinar infra-merah, sinar-X, dan angin matahari yang merebak keseluruh tata surya.

Bumi terlindungi daripada angin matahari oleh medan magnet bumi, sementara lapisan ozon pula melindungi bumi daripada sinaran ultra-violet dan sinar infra-merah. Terdapat noda hitam yang muncul dari masa ke masa pada matahari yang disebabkan oleh perbedaan suhu di permukaan matahari. Noda hitam itu menandakan kawasan yang "kurang panas" berbanding kawasan lain dan mencapai keluasan melebihi ukuran bumi. Kadang-kala peredaran bulan mengelilingi bumi menghalangi sinaran matahari yang sampai ke bumi, oleh itu mengakibatkan terjadinya gerhana matahari.


Matasapi atau Telur mata sapi (dari bahasa Perancis Œil de Bœuf) adalah hidangan dari telur (biasanya ayam) yang digoreng dengan minyak goreng panas tanpa diaduk terlebih dahulu.


Matahari dan Matasapi

BELUM lama ini sebuah koran Swedia ternama mengadakan lomba untuk menentukan kata apa dalam bahasa Swedia yang patut diberi julukan kata terindah. Lebih dari 700 usul diterima koran tersebut dan juri yang terdiri dari sejumlah profesor dan ahli bahasa akhirnya bersepakat bahwa hamna merupakan kata terindah dalam bahasa Swedia. Kata kerja ini tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tapi kira-kira berarti ’sampai di sebuah tempat secara tidak terencana’. Yang mengirim kata ini melampirkan motivasi bahwa kita sebagai manusia selalu sampai di tempat-tempat yang tidak sesuai dengan rencana awal kita. Mungkin saja betul.

Sebelumnya sebuah koran Jerman mengadakan lomba yang mirip. Koran ini pun menerima ratusan usul mengenai kata terindah dalam bahasa Jerman. Yang akhirnya menang ialah kata habseligkeiten.

Nah, mungkinkah menentukan kata terindah suatu bahasa? Masuk akalkah lomba-lomba seperti yang telah diceritakan secara pendek barusan? Ya dan tidak. Seperti ketika musik dan prestasi kesenian lainnya dijadikan ikut lomba, suara-suara kritis pasti muncul di mana-mana. Tidak jarang kita dengar bahwa tidak wajar mengadakan lomba musik sebab keindahan musik sendiri itu tidak statis dan obyektif, tapi lebih tepat subyektif dan berlokasi di telinga dan hati si pendengar saja.

Seorang penyair terkenal pernah mengatakan: keindahan terletak pada mata yang memandang. Di pihak lain, kontes-kontes musik sangat populer-baik di Indonesia maupun di negara-negara lain (Swedish Idol baru saja usai)-dan di dunia perfilman pun penghargaan dan kontes cukup biasa diadakan dan diberikan. Orang yang berhasil menyusun kata-kata dengan sangat baik pun dapat menerima penghargaan ternama dalam bidang kesusastraan, yaitu penghargaan Nobel, yang ngomong-ngomong hendaknya telah berada di tangan Pramoedya Ananta Toer. Jadi, jika perlombaan dan penghargaan dalam bidang-bidang yang disebutkan di atas masuk akal, maka lomba mengenai kata terindah pun masuk akal. Yang penting dicatat, sebuah kata tidak bisa indah dalam diri sendirinya, tapi harus disertai motivasi pengagumnya. Dengan kata lain, tidak mustahil saya tidak bersetuju dengan juri Swedia bahwa hamna merupakan kata terindah dalam bahasa kami. Kata tersebut tidak memiliki arti dan sejarah yang sama bagi saya seperti bagi yang mengirimnya ke koran tadi. Dengan demikian, pertanyaan berikut muncul: jika memang kata terindah suatu bahasa dapat ditentukan (meski secara tidak terlalu serius), kira-kira kata apa yang bisa diberi julukan terhormat itu dalam bahasa Indonesia?

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Apalagi jika kata-kata lokal boleh ikut serta lomba itu, sebagaimana diperbolehkan dalam lomba Swedia. Yang pasti, sebuah lomba seperti itu di Indonesia berkemungkinan besar dapat meningkatkan kesukaan orang awam pada bahasanya, menyadarkan masyarakat mengenai harta yang tak habis tergali yang mereka miliki secara bersama-sama dan mengembangkan bahasa nasional lebih lagi. Mungkin saja koran Kompas bersedia menyelenggarakan, umpamanya, Lomba Kata Terindah Bahasa Indonesia. Pertanyaannya tetap menghantui pemikiran saya: kira-kira kata apa yang patut disebut kata terindah dalam bahasa Indonesia? Sebagai orang asing dengan pemahaman bahasa Indonesia yang sangat dangkal dan jumlah kosakata yang sangat terbatas, saya cenderung memilih kata matahari yang cukup puitis. Matahari kan memang ’mata hari’. Kata lain yang saya sukai ialah matasapi yang agak lucu.

Bunyi pelangi juga sangat sulit untuk tidak disukai menurut saya, mungkin karena kedekatannya dengan bunyi plong yang juga merupakan kata kesukaan saya. Lebih lanjut lagi, saya suka bunyi kata majalah dan juga suka bahwa baterai disebut pula batu. O ya, hampir lupa, saya suka semua kata ulang seperti desas-desus, mondar-mandir, bolak-balik, ceplas-ceplos. Akhirnya, kata cemplung juga enak didengar!

André Möller
Pengagum Bahasa Indonesia, Tinggal di Lund, Swedia

1 Comments:

Anonymous andré Sez...

Ternyata, bukan saja saya yang suka "matahari" dan "matasapi"...!

Salam dari jauh!

/andré

Thu Mar 23, 03:33:00 AM 2006  

Post a Comment

<< Home