Craze for Korea
Beberapa waktu yang lalu, ketika serial drama Taiwan "Meteor Garden" sedang tayang di Indonesia, kata "chaiyo" menjadi suatu hal yang sangat populer. Kata tersebut mulai bersanding dengan kata "semangat ya!" dan atau "sukses ya!" untuk mengungkapkan apresiasi dukungan si pemakai bahasa terhadap lawan bicaranya. Dan ketika serial "Full House" dari Korea menghiasi layar kaca pemirsa TV Indonesia--baik Meteor Garden maupun Full House untuk kali pertama tayang di stasiun Indosiar--kata "aja aja fighting" pun mengalami hal yang serupa dengan kata "chaiyo" walau sampai detik ini belum dapat menyaingi kepopuleran "chaiyo" dalam penggunaannya di kalangan masyarakat Indonesia.Realita ini sangat sering terjadi di Indonesia. Para pemakai Bahasa Indonesia seakan mudah 'tergoda' untuk memakai istilah asing dalam percakapannya sehari-hari. Coba anda sesekali perhatikan, selain contoh diatas masih banyak istilah dan kata-kata asing yang biasa dipakai. Sebut saja penggunaan kata "you", "so what gitu loh", dan sebagainya. Hal ini dipandang oleh pemakai Bahasa Indonesia sebagai kewajaran. Mungkin memang begitu, karena katanya bangsa ini sangat lemah dalam memaknai kontrak sosial, dimana penggunaan bahasa itu adalah salah satunya.
Namun, dapatkah fenomena pemakaian istilah asing tersebut terjadi di negara-negara maju? Sedikit meragukan memang mengingat bahasa, jika dikaji dengan menggunakan critical discourse analysis, adalah merupakan alat perjuangan kelas dominan untuk menindas kelas subordinat.
Fenomena tersebut diatas rupanya bisa saja terjadi dimana-mana. Di Amerika Serikat--Hawaii tepatnya--pemakaian kata "hallyu" menjadi sangat populer dan bersanding dengan kata "hello" untuk menyapa seseorang. Kata "hallyu" tersebut di populerkan oleh drama-drama Korea yang memang sedang mendapat perhatian lebih oleh para pemirsa TV di Amerika Serikat. Beberapa drama seperti "Full House" dan "Dang Jang Geum" (keduanya pernah tayang di Indonesia, "Dang Jae Geum" tayang dengan judul "Jewal in The Palace.) menjadi pilihan favorit para permirsa karena kekuatan cerita drama tersebut.
Annette Marten, seorang suster berusia 69 tahun dari Kailua, Hawaii, mengatakan, ''I'm not prudish in any way, but it's so lovely how they express themselves. I get all excited if they get a hug,'' Dia menambahkan, bahwa dirinya juga menyukai aktor tampan dalam drama-drama tersebut. ''I like the young heartthrobs.'' jelasnya, seperti yang saya lansir dari portal OhMyNews International.
Dengan adanya fenomena ini terbukti memang televisi merupakan media penyebaran budaya terefektif yang pernah dibuat oleh peradaban manusia. Bukan hal yang mustahil, Bahasa Indonesia yang hampir ditinggalkan oleh para pemakainya di Indonesia akan mendapatkan ancaman yang lebih besar ketika globalisasi benar-benar terjadi nanti. Hari ini bahasa, mungkin besok merambat kedalam aspek budaya lainnya. Kembali ke dunia pertelevisian Indonesia, apa benar kita sudah berkaca dan merealisasikan komentar-komentar pedas yang pernah kita lontarkan kepada pertelevisian kita? Cuma hati masing-msing orang yang bisa menjawab.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home